Deretan Buronan Paling Dicari Kepolisian Republik Indonesia

Deretan Buronan Paling Dicari Kepolisian Republik Indonesia

Kata buron dan buronan jelas memiliki makna yang sangat tidak menyenangkan, karena meski memiliki arti dicari tetapi penggunaannya adalah untuk mereka yang dicari pihak berwajib. Seseorang dapat menyandang sebutan buronan apabila kabur dari panggilan pihak berwajib maupun ketika menghilang saat diduga melakukan suatu tindak pidana. Tidak peduli kecil atau besar tindak pidana yang dilakukannya itu.

Biasanya seseorang yang sudah menjadi buronan akan dimasukkan ke dalam daftar buron yang bisa diakses oleh pihak berwajib di seluruh wilayah operasionalnya. Itulah sebabnya banyak buronan yang sudah kabur ke luar daerah namun tetap berhasil teridentifikasi sebagai pelaku tindak pidana yang sedang dicari.

Para Buronan Tanah Air Dan Kasusnya

Deretan Buronan Paling Dicari Kepolisian Republik Indonesia

Di Indonesia tentu ada banyak sekali buronan berbagai macam kasus, mulai dari kasus pembunuhan, perdagangan barang-barang ilegal hingga korupsi. Dari sekian banyak nama pelaku tindak pidana yang masuk daftar buron, setidaknya ada beberapa diantaranya yang merupakan buronan paling dicari. Mereka yang menjadi buronan paling dicari adalah karena tindak pidana yang dilakukan sudah masuk ke skala besar.

Untuk lebih jelasnya mengenai siapa saja nama-nama buronan paling dicari oleh kepolisian negeri ini dan apa yang telah mereka lakukan sehingga jadi yang paling dicari, berikut ini informasinya.

  • Harun Masiku karena kasus suap

Mantan Calon anggota legislatif dari partai PDI Perjuangan yang bernama Harun Masiku ditetapkan menjadi tersangka setelah terindikasi melakukan suap kepada eks Komisioner Komisi Pemilihan Umum, Wahyu Setiawan. Sogokan alias suap yang ia lakukan adalah untuk memuluskan mekanisme Pergantian Antarwaktu alias PAW dari salah satu anggota DPR RI Dapil Sumatera Selatan 1 yakni Riezky Aprilia kepadanya.

Bukan hanya itu, sogokan juga dilakukan guna melancarkan mekanisme penggantian anggota DPR dari partai PDIP terpilih yang berpulang, yaitu Nazarudin Kiemas. Wahyu Setiawan serta Agustiani Tio Fredelina diberikan dakwaan telah menerima suap sebesar 600 juta rupiah. Sayangnya Harun justru diduga kabur yang sampai saat ini belum juga diketahui dimana keberadaan tepatnya.

  • Hiendra Soenjoto karena kasus suap dan gratifikasi

Nama Hiendra Soenjoto masuk ke dalam daftar yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK alias Komisi Pemberantasan Korupsi dari bulan Desember 2019 akibat terganjal kasus suap gratifikasi dan juga suap. Gratifikasi dan suap yang dituduhkan dilakukan olehnya adalah perihal perkara yang berjalan di Mahkamah Agung sejak tahun 2011 hingga tahun 2016.

Dikatakan bahwa sejak bulan Februari tahun 2020, Ia tidak pernah sekalipun memenuhi panggilan yang dilakukan oleh pihak penyidik KPK. Ia juga terindikasi kabur empat atau lima hari hari sebelum ditetapkannya ia sebagai tersangka.

Dalam kasus ini, Ia diduga melakukan suap kepada mantan Sekretaris Mahkamah Agung yaitu Nurhadi senilai 46 miliar rupiah lewat menantunya  yakni Rezky Herbiyono. Sogokan yang dilakukan itu dalam rangka agar menang dalam perkara kepemilikan saham PT Multicon Indrajaya Terminal alias MIT.

  • Sjamsul Nursalim dan Itjih karena kasus BLBI

Sjamsul Nursalim dan juga istrinya yaitu Itjih Nursalim ditetapkan menjadi tersangka atas kasus korupsi BLBI yang merupakan kependekan dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Penetapan itu dilakukan sejak tanggal 10 Juni 2019 lalu sehingga sudah cukup lama belum tuntas. Urungnya kasus tersebut untuk tuntas tidak lain karena pasangan suami istri tersebut masuk daftar pencarian orang alias menjadi buron sejak september 2019.

Sebetulnya penyidik dari KPK sudah melakukan panggilan untuk pasangan suami istri tersebut agar menjalani mekanisme pemeriksaan. Sayangnya, keduanya justru tak kunjung hadir sekalipun. Informasi yang didapatkan tentang kerugian akibat kasus yang satu ini sekitar 4,8 triliun rupiah.

  • Eddy Tansil karena kasus penggelapan

Nama terakhir dalam daftar ini yaitu Eddy Tansil yang disebut-sebut sebagai buronan kasus korupsi paling lama di Indonesia. Ia merupakan pembobol uang milik negara pada kasus kredit Bank Bapindo via perusahaan Golden Key Group di tahun 1993.

Ia kemudian terbukti telah menggelapkan uang senilai 565 juta dolar Amerika atau setara dengan 1,5 triliun rupiah. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebetulnya telah memberikan vonis Eddy untuk menjalani masa hukuman selama 20 tahun penjara serta denda sebesar 30 juta rupiah, ditambah lagi ia juga harus membayar biaya pengganti senilai 500 miliar rupiah serta tak ketinggalan membayar kerugian negara yang disebabkannya sebesar 1,3 triliun rupiah. Sayangnya pada tanggal 3 Mei tahun 1996, Ia berhasil kabur dari penjara hingga keberadaannya tak diketahui sampai kini.

Yang Harus Dilakukan Saat Bertemu Buronan

Buronan Paling Dicari Kepolisian

Buronan yang paling dicari jelas akan disebar fotonya atau minimal sketsa wajahnya ke seantero negeri berharap ada yang mengenali dan segera melakukan tindakan. Tindakan yang paling realistis untuk dilakukan jelas adalah menghubungi pihak berwajib, karena memang ranah mereka untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

Tetapi jangan lupa untuk tetap tenang, karena apabila tidak tenang justru akan memungkinkan diri berbuat sesuatu hal yang tidak diperlukan. Cukup ambil telepon dan segera melakukan panggilan kepada nomor darurat pihak berwajib.

Tagged :